MAKALAH
KONSEP DASAR FISKO 1
“OPTIK
GEOMETRI
“
Riska.S
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TADULAKO
2015-2016
OPTIK
GEOMETRI
Makalah
ini akan membahas tentang optik geometri yang meliputi pemantulan cahaya,
pemantulan cermin dan pembiasan cahaya.
A.
Standar
kompetensi
Menerapkan prinsip
kerja alat-alat optik
B.
Kompetensi
dasar
Menganalisis alat-alat
optik secara kualitatif dan kuantitatif
C.
Tujan
Adapun tujuan dalam penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untk mengetahui apa yang dimaksud dengan optik geometri?
2. Dapat mengetahui sifat-sifat cahaya?
3. Untuk mengetahui terjadinya hukum pemantulan dan hukum snelius?
4. Untuk mengetahui cara
pembiasan cahaya serta letak dan bayangan pada pemantulan dan pembiasan ?
D.
Indikator
a. Menjelaskan pengertian optik
geometri
b. Menjelaskan sifat-sifat cahaya
c. Mendeskripsikan Hukum Pemantulan dan
Hukum Snellius
d. Menentukan letak bayangan dan
sifat bayangan pada pemantulan dan
pembiasan menggunakan persamaan-persamaan pemantulan dan pembiasan
MATERI
A.
Pengertian Optik
Optika merupakan cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang konsep cahaya,
terutama mengkaji sifat-sifat cahaya, hakikat, dan pemanfaatannya. Optika
terbagi ke dalam dua bagian yaitu Optika Geometris dan Optika Fisis.
B.
Optika
Geometris
Optika Geometris merupakan optika yang membahas
tentang pemantulan dan pembiasan cahaya. Sifat cahaya sama dengan sifat
gelombang elektromagnetik. Cahaya dan gelombang elektromagnetik dapat merambat
dalam ruang vakum (ruang hampa).
1) Pemantulan Cahaya
·
Jenis-jenis pemantulan cahaya
Ada dua jenis pemantulan
cahaya, yaitu pemantulan teratur dan pemantulan baur.

Gambar 1.1 Pemantulan
teratur Gambar 1.2
Pemantulan baur
Pemantulan
teratur terjadi ketika suatu berkas cahaya sejajar datang pada permukaan yang
halus atau rata seperti permukaan cermin datar atau permukaan air yang tenang.
Sedangkan pemantulan baur terjadi
ketika suatu berkas cahaya sejajar datang pada
permukaan yang kasar atau tidak rata sehingga dipantulkan keberbagai arah yang
tidak tertentu.
2)
Hukum pemantulan
Gambar 1.3 Hukum pemantulan
Dari hasil percobaan sesuai gambar 2.3,
diperoleh hokum pemantulan sebagai berikut:
1)
Sinar datang, sinar pantul, dang garis normal berpotongan pada satu titik dan
terletak pada satu bidang datar.
2) Sudur datang (i)
sama dengan sudut pantul (r)
Sehingga hukum pemantulan dapat dinyatakan
secara matematis sebagai berikut:
i = r
3)
Pemantulan pada cermin datar
Cermin datar adalah cermin
yang mempunyai permukaan pantul berbentuk bidang datar. Bayangan yang dibentuk
oleh cermin datar sama persis dengan ukuran bendanya.
Gambar 1.4 Pemantulan pada cermin datar
4)
Sifat-sifat bayangan pada cermin datar
Lima sifat penting banyangan pada cermin datar
yaitu:
1. Bayangan sama besar dengan
bendanya
2. Bayanagan tegak
3. Jarak bayangan ke cermin
sama dengan jarak benda ke cermin
4. Bayangan bertukar sisinya
5. Bayangan bersifat maya atau
semu
5)
Jumlah
banyangan yang dibentuk oleh dua buah cermin datar
Apabila sudut apit dua buah cermin datar α besarnya diubah-ubah, maka
secara empiris jumlah bayangan yang dihasilkan memenuhi hubungan
n = – 1
Keterangan:
`n = jumlah bayangan
α = sudut apit kedua cermin datar
6)
Pemantulan Pada Cermin Lekung
Cermin lekung adalah cermin
yang mempunyai permukaan pantul berbentuk lengkung. Cermin lengkung dibedakan
menjadi dua, yaitu cermin cekung dan cermin cembung.
a.
Cermin Cekung
Cermign cekung
bersifat mengumpulkan sinar. Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama akan
akan dipantulkan mengumpul pada suatu titik yang disebut titik fokus (F).
Secara geometris dapat dibuktikan bahwa panjang fokus (f), yaitu jarak
cermin ke titik fokus besarnya sama dengan setengah panjang jari-jari
kelengkungan cermin.
f = r/2
Gambar 1.5 Cermin
cekung
Untuk melukis sinar yang
berasal dari sebuah benda yang menuju sebuah cermin, terdapat tiga sinar utama
yang berguna untuk menentukan lokasi bayangan dan sering disebut sinar-sinar
istimewa, yaitu:
1) Sinar datang yang
sejajar dengan sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus.
2) Sinar datang
yang melalui titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama.
3)
Sinar datang yang melalui titik pusat kelengkungan cermin (C) dipantulkan
melalui titik itu juga.
Gambar 1.6 Sinar-sinar istimewa
·
Rumus umum
cermin cekung
Perhatikan Gambar 1.6 untuk menurunkan persamaan matematis yang menggambar
lokasi sebuah bayangan.
Gambar 1.7 Prinsip kesebangunan geometri untuk menurunkan rumus umum cermin
Gambar 1.7 (a) menunjukkan suatu sinar dari puncak benda yang akan
dipantulkan melalui puncak bayangan dengan sudut datang yang sama dengan sudut
pantul. Oleh karena itu, kita dapat melihat dua buah segitiga yang sama
sebangun, sehingga berlaku:
Gambar 1.7 (b) menunjukkan suatu sinar dari benda melalui titik fokos
(F) yang dipantulkan sejajar dengan sumbu utama melalui bayangan. Oleh karena
itu, kita dapat melihat dua buah segitiga yang sama sebangun, sehingga berlaku:
Keterangan:
f = jarak fokus cermin
so = jarak benda ke cermin
si = jarak bayangan ke cermin
ho = tinggi benda
hi = tinggi bayangan
Dari
persamaan di atas berlaku untuk cermin cekung maupun cermin cembung, namun
harus memperhatikan perjanjian tanda berikut:
so bertanda + jika benda terletak di depan cermin (benda
nyata)
so bertanda - jika benda terletak di belakang
cermin (benda maya)
si bertanda + jika bayangan terletak di depan
cermin (banyangan nyata)
si bertanda - jika benda terletak di belakang
cermin (banyangan maya)
f bertanda + untuk cermin cekung
f bertanda - untuk cermin cekung
Bayangan yang dibentuk cermin dapat lebih besar atau lebih kecil dari
ukuran bendanya. Untuk menyatakan perpandingan ukuran bayangan terhadap
bendanya digunakan konsep pembesar. Pada pembahasan ini akan dibahas perbesaran
linear. Perbesaran linear didefinisikan sebagai perbandingan antara tinggi
bayangan (jarak bayangan) dengan tinggi benda (jarak benda). Secara matematis
dituliskan:
b.
Cermin cembung
Cermin cembung bersifat menyebarkan sinar.
Berkas sinar sejajar sumbu utama dipantulkan menyebar seolah-olah berasal dari
titik fokus (F). Seperti pada cermincekung, panjang fokus (f) sama
dengan setengah jari-jari kelengkungan cermin.
Sinar-sinar istimewa pada cermin cembung
1)
Sinar datang yang sejajar dengan sumbu utama dipantulkan seolah-olah berasal
dari titik fokus.
2) Sinar datang yang menuju titik
fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama.
3)
Sinar datang yang menuju pusat kelengkungan dipantulkan melalui lintasan yang
sama.
Gambar 1.8
Sinar-sinar istimewa pada cermin cembung
Rumus
umum cermin cembung
Rumus-rumus yang berlaku pada cermin cekung serta perjanjian tandanya
berlaku juga untuk cermin cembung sehingga dapat dituliskan ulang sebagai
berikut:
7)
Pembiasan Cahaya
Pembiasan adalah pembelokan cahaya
sehubungan dengan perubahan kecepatan rambat dari suatu medium ke medium lain.
a.
Hukum Pembiasan
Ada beberapa pengertian yang perlu dipahami sebelum membahas tentang
hukum pembiasan, yaitu:
a. Sinar
datang adalah sinar yang datang pada bidang batas dua medium.
b. Sinar bias adalah sinar yang dibiaskan
oleh bidang batas dua medium.
c. Garis
normal adalah garis yang tegak lurus pada bidang batas dua medum.
d.
Sudut datang (i) adalah sudut antara sinar datang dengan garis
normal.
e. Sudut bias (r) adalah sudut antara
sinar bias dengan garis normal.
f. Indeks
bias mutlak suatu medium (n) didefinisikan sebagai perbandingan cepat
rambat cahaya di ruang hampa (c) terhadap cepat rambat cahaya di medium
tersebut (v). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Karena kecepatan cahaya di dalam suatu medium selalu lebih kecil
daripada di ruang hampa maka indeks bias mutlak suatu medium selalu lebih besardari
1 (n > 1). Indeks bias relatif suatu medium nr didefinisikan
sebagai pepandingan indeks bias mutlak medium tersebut terhadap indeks bias
mutlak medium lain, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut.
Keterangan:
n12 = indeks bias relatif medium 1 terhadap 2
n1 = indeks bias mutlak medium 1
n2 = indeks bias mutlak medium 2
v1
= laju cahaya dalam medium 1
v2 = laju cahaya dalam medium 2
Karena indeks bias relatif adalah perbandingan indeks bias antara dua
medium, maka indeks bias relatif ini bisa bernilai lebih besar atau lebih dari
satu.
Gambar 1.9 Hukum pembiasan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan oleh
Willebrord Snellius (1591 – 1626), seperti pada gambar 2. Diproleh hukum
pembiasan atau hukum Snellius sebagai berikut:
1) Sinar datang, sinar bias, dan
garis normal berpotongan pada suatu titik
dan terletak pada satu bidang datar.
2) Sinar datang dari
medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat dibiaskan mendekati garis
normal.
3) Sinar datang dari
medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat dibiaskan menjauhi garis
normal.
4) Sinar datang secara
tegak lurus terhadap bidang batas dua medium tidak dibiaskan, melainkan
diteruskan.
Hukum pembias tersebut dapat dinyatakan secara matematis sebagai
berikut.
n1 sin i = n2 sin r
Keterangan:
n1 =
indeks bias mutlak medium 1
n2 =
indeks bias mutlak medium 2
i = sudut datang
r = sudut bias
b.
Pembiasan
pada Kaca Plan-paralel
Gambar 1.10 Pembiasan pada kaca plan-paralel
Untuk kaca plan-paralel
dengan ketebalan d maka sinar akan mengalami pergeseran sebesar t
yang dapat diturunkan sebagai berikut:
Perhatikan
segitiga OBC:
sin
sudut COB =
t = OB sin sudut COB
t = OB sin (i – r)
Perhatikan
segitiga OAB:
cos r = OA/OB = d/OB
dengan
menggabungkan kedua persamaan di atas, diperoleh
dimana
r dapat dihitung dari hukum Snellius (n1 sin i =n2
sin r).
c.
Pembiasan Cahaya pada Bidang Lengkung
Hukum pembiasan Snellius dapat
juga diterapkan pada bidang lengkung terutama untuk sinar-sinar paraksial.
Gambar 2.9 memperlihatkan suatu batas permukaan lengkungan yangg mempunyai
jari-jari kelengkungan R dan pusatnya adalah titik C. Cahaya
datang dari benda di titik O, mengenai bidang batas dengan sudut datang i
dan dibiaskan dengan sudut bias r ke titik I memenuhi hukum
Snellius.
n1 sin i = n2
sin r
Gambar 1.11 Pembiasan cahaya pada
bidang lengkung
Untuk sinar-sinar paraksial
kita dapat menggunakan pendekatan sin θ = θ sehingga diperoleh
n1i = n2r
Bedasarkan sifat geometri dapat ditunjukkan bahwa
i = α + β dan β = γ + r
Apabila ketiga persamaan terakhir kita gabungkan dengan mengeliminasi i
dan r akan diperoleh
n1α + n2γ = (n2
– n1)β
Jika so adalah jarak benda O ke titik verteks V dan
s1 adalah jarak bayangan I ke titik verteks V,
maka kita dapat menghitung besar sudut α, β dan γ dalam satuan radial sebagai
panjang busur AV dibagi jari-jari yang terkait
α =AV/so ,
β =AV/R ,
γ =AV/si
Dengan memasukkan sudut α, β dan γ ke dalam persamaan terakhir dengan
menghilangkan panjang busur AV akan diperoleh:
Perhatikan aturan penggunaan persamaan di atas
R bertanda +
jika permukaan cembung
R bertanda -
jika permukaan cekung
so bertanda +
jika benda nyata (di depan permukaan lengkung)
si bertanda +
jika bayangan nyata (di belakang permukaan lengkung)
si bertanda -
jika bayangan maya (di depan permukaan lengkung)
d.
Pembiasan cahaya pada prisma kaca
Prisma juga merupakan benda bening yang terbuat dari kaca, kegunaannyaantara lain untuk mengarahkan berkas sinar,
mengubah dan membalik letak bayanganserta menguraikan cahaya putih
menjadi warna spektrum (warna pelangi).Cahaya dari udara memasuki salah satu
bidang pembias prisma akan dibiaskan dan padasaat meninggalkan bidang pembias
lainnya ke udara juga dibiaskan.
C.
Latihan soal
Pilihlah
salah satu jawaban yang paling tepat di bawah ini:
1.Cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang mempunyai
sifat- sifat…..
1)
Merupakan gelombang medan listrik
dan medan magnetic
2)
Merupakan gelombang longitudinal
3)
Dapat dipolarisasikan
4)
Rambatannya memerlukan zat antara
Pernyataan yang benar adalah….
a.
1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 2 dan 4
d. 2 dan 3
e. 1 dan 4
2.
Seberkas sinar mengenai system optic
yang terdiri atas dua cermin datar yang saling tegak lurus. Setelah berkas
sinar mengalami pemantulan dua kali maka arah berkas sinar ……
a. Menuju sinar datang
b. Memotong sinar datang
c. Tegak lurus sinar datang
d. Sejajar dan berlawanan dengan arah sinar datang
e. Sejajar dan searah dengan sinar dating
3. suatu benda di letakan pada jarak 4 cm
DAFTAR
PUSTAKA
Beuchc
Frederick J, dan Eugene Heeht. 2006. Fisika Universitas Edisi kesepuluh.
Jakarta: Erlangga.
Daryanto. 2003. FisikaTeknik. Jakarta: Bina adiaksara.
Gianncoli Douglas C. 2001. Fisika Edisi kelima jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Sears dan
Zemansky. 2001. FISIKA UNIVERSITAS Edisi ke sepuluh jilid 2. Jakarta: Erlangga.
MAKALAH
KONSEP DASAR FISKO 1
“OPTIK
GEOMETRI
“

Riska.S
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TADULAKO
2015-2016
OPTIK
GEOMETRI
Makalah
ini akan membahas tentang optik geometri yang meliputi pemantulan cahaya,
pemantulan cermin dan pembiasan cahaya.
A.
Standar
kompetensi
Menerapkan prinsip
kerja alat-alat optik
B.
Kompetensi
dasar
Menganalisis alat-alat
optik secara kualitatif dan kuantitatif
C.
Tujan
Adapun tujuan dalam penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untk mengetahui apa yang dimaksud dengan optik geometri?
2. Dapat mengetahui sifat-sifat cahaya?
3. Untuk mengetahui terjadinya hukum pemantulan dan hukum snelius?
4. Untuk mengetahui cara
pembiasan cahaya serta letak dan bayangan pada pemantulan dan pembiasan ?
D.
Indikator
a. Menjelaskan pengertian optik
geometri
b. Menjelaskan sifat-sifat cahaya
c. Mendeskripsikan Hukum Pemantulan dan
Hukum Snellius
d. Menentukan letak bayangan dan
sifat bayangan pada pemantulan dan
pembiasan menggunakan persamaan-persamaan pemantulan dan pembiasan
MATERI
A.
Pengertian Optik
Optika merupakan cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang konsep cahaya,
terutama mengkaji sifat-sifat cahaya, hakikat, dan pemanfaatannya. Optika
terbagi ke dalam dua bagian yaitu Optika Geometris dan Optika Fisis.
B.
Optika
Geometris
Optika Geometris merupakan optika yang membahas
tentang pemantulan dan pembiasan cahaya. Sifat cahaya sama dengan sifat
gelombang elektromagnetik. Cahaya dan gelombang elektromagnetik dapat merambat
dalam ruang vakum (ruang hampa).
1) Pemantulan Cahaya
·
Jenis-jenis pemantulan cahaya
Ada dua jenis pemantulan
cahaya, yaitu pemantulan teratur dan pemantulan baur.

Gambar 1.1 Pemantulan
teratur Gambar 1.2
Pemantulan baur
Pemantulan
teratur terjadi ketika suatu berkas cahaya sejajar datang pada permukaan yang
halus atau rata seperti permukaan cermin datar atau permukaan air yang tenang.
Sedangkan pemantulan baur terjadi
ketika suatu berkas cahaya sejajar datang pada
permukaan yang kasar atau tidak rata sehingga dipantulkan keberbagai arah yang
tidak tertentu.
2)
Hukum pemantulan
Gambar 1.3 Hukum pemantulan
Dari hasil percobaan sesuai gambar 2.3,
diperoleh hokum pemantulan sebagai berikut:
1)
Sinar datang, sinar pantul, dang garis normal berpotongan pada satu titik dan
terletak pada satu bidang datar.
2) Sudur datang (i)
sama dengan sudut pantul (r)
Sehingga hukum pemantulan dapat dinyatakan
secara matematis sebagai berikut:
i = r
3)
Pemantulan pada cermin datar
Cermin datar adalah cermin
yang mempunyai permukaan pantul berbentuk bidang datar. Bayangan yang dibentuk
oleh cermin datar sama persis dengan ukuran bendanya.
Gambar 1.4 Pemantulan pada cermin datar
4)
Sifat-sifat bayangan pada cermin datar
Lima sifat penting banyangan pada cermin datar
yaitu:
1. Bayangan sama besar dengan
bendanya
2. Bayanagan tegak
3. Jarak bayangan ke cermin
sama dengan jarak benda ke cermin
4. Bayangan bertukar sisinya
5. Bayangan bersifat maya atau
semu
5)
Jumlah
banyangan yang dibentuk oleh dua buah cermin datar
Apabila sudut apit dua buah cermin datar α besarnya diubah-ubah, maka
secara empiris jumlah bayangan yang dihasilkan memenuhi hubungan
n = – 1
Keterangan:
`n = jumlah bayangan
α = sudut apit kedua cermin datar
6)
Pemantulan Pada Cermin Lekung
Cermin lekung adalah cermin
yang mempunyai permukaan pantul berbentuk lengkung. Cermin lengkung dibedakan
menjadi dua, yaitu cermin cekung dan cermin cembung.
a.
Cermin Cekung
Cermign cekung
bersifat mengumpulkan sinar. Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama akan
akan dipantulkan mengumpul pada suatu titik yang disebut titik fokus (F).
Secara geometris dapat dibuktikan bahwa panjang fokus (f), yaitu jarak
cermin ke titik fokus besarnya sama dengan setengah panjang jari-jari
kelengkungan cermin.
f = r/2
Gambar 1.5 Cermin
cekung
Untuk melukis sinar yang
berasal dari sebuah benda yang menuju sebuah cermin, terdapat tiga sinar utama
yang berguna untuk menentukan lokasi bayangan dan sering disebut sinar-sinar
istimewa, yaitu:
1) Sinar datang yang
sejajar dengan sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus.
2) Sinar datang
yang melalui titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama.
3)
Sinar datang yang melalui titik pusat kelengkungan cermin (C) dipantulkan
melalui titik itu juga.
Gambar 1.6 Sinar-sinar istimewa
·
Rumus umum
cermin cekung
Perhatikan Gambar 1.6 untuk menurunkan persamaan matematis yang menggambar
lokasi sebuah bayangan.
Gambar 1.7 Prinsip kesebangunan geometri untuk menurunkan rumus umum cermin
Gambar 1.7 (a) menunjukkan suatu sinar dari puncak benda yang akan
dipantulkan melalui puncak bayangan dengan sudut datang yang sama dengan sudut
pantul. Oleh karena itu, kita dapat melihat dua buah segitiga yang sama
sebangun, sehingga berlaku:
Gambar 1.7 (b) menunjukkan suatu sinar dari benda melalui titik fokos
(F) yang dipantulkan sejajar dengan sumbu utama melalui bayangan. Oleh karena
itu, kita dapat melihat dua buah segitiga yang sama sebangun, sehingga berlaku:
Keterangan:
f = jarak fokus cermin
so = jarak benda ke cermin
si = jarak bayangan ke cermin
ho = tinggi benda
hi = tinggi bayangan
Dari
persamaan di atas berlaku untuk cermin cekung maupun cermin cembung, namun
harus memperhatikan perjanjian tanda berikut:
so bertanda + jika benda terletak di depan cermin (benda
nyata)
so bertanda - jika benda terletak di belakang
cermin (benda maya)
si bertanda + jika bayangan terletak di depan
cermin (banyangan nyata)
si bertanda - jika benda terletak di belakang
cermin (banyangan maya)
f bertanda + untuk cermin cekung
f bertanda - untuk cermin cekung
Bayangan yang dibentuk cermin dapat lebih besar atau lebih kecil dari
ukuran bendanya. Untuk menyatakan perpandingan ukuran bayangan terhadap
bendanya digunakan konsep pembesar. Pada pembahasan ini akan dibahas perbesaran
linear. Perbesaran linear didefinisikan sebagai perbandingan antara tinggi
bayangan (jarak bayangan) dengan tinggi benda (jarak benda). Secara matematis
dituliskan:
b.
Cermin cembung
Cermin cembung bersifat menyebarkan sinar.
Berkas sinar sejajar sumbu utama dipantulkan menyebar seolah-olah berasal dari
titik fokus (F). Seperti pada cermincekung, panjang fokus (f) sama
dengan setengah jari-jari kelengkungan cermin.
Sinar-sinar istimewa pada cermin cembung
1)
Sinar datang yang sejajar dengan sumbu utama dipantulkan seolah-olah berasal
dari titik fokus.
2) Sinar datang yang menuju titik
fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama.
3)
Sinar datang yang menuju pusat kelengkungan dipantulkan melalui lintasan yang
sama.
Gambar 1.8
Sinar-sinar istimewa pada cermin cembung
Rumus
umum cermin cembung
Rumus-rumus yang berlaku pada cermin cekung serta perjanjian tandanya
berlaku juga untuk cermin cembung sehingga dapat dituliskan ulang sebagai
berikut:
7)
Pembiasan Cahaya
Pembiasan adalah pembelokan cahaya
sehubungan dengan perubahan kecepatan rambat dari suatu medium ke medium lain.
a.
Hukum Pembiasan
Ada beberapa pengertian yang perlu dipahami sebelum membahas tentang
hukum pembiasan, yaitu:
a. Sinar
datang adalah sinar yang datang pada bidang batas dua medium.
b. Sinar bias adalah sinar yang dibiaskan
oleh bidang batas dua medium.
c. Garis
normal adalah garis yang tegak lurus pada bidang batas dua medum.
d.
Sudut datang (i) adalah sudut antara sinar datang dengan garis
normal.
e. Sudut bias (r) adalah sudut antara
sinar bias dengan garis normal.
f. Indeks
bias mutlak suatu medium (n) didefinisikan sebagai perbandingan cepat
rambat cahaya di ruang hampa (c) terhadap cepat rambat cahaya di medium
tersebut (v). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Karena kecepatan cahaya di dalam suatu medium selalu lebih kecil
daripada di ruang hampa maka indeks bias mutlak suatu medium selalu lebih besardari
1 (n > 1). Indeks bias relatif suatu medium nr didefinisikan
sebagai pepandingan indeks bias mutlak medium tersebut terhadap indeks bias
mutlak medium lain, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut.
Keterangan:
n12 = indeks bias relatif medium 1 terhadap 2
n1 = indeks bias mutlak medium 1
n2 = indeks bias mutlak medium 2
v1
= laju cahaya dalam medium 1
v2 = laju cahaya dalam medium 2
Karena indeks bias relatif adalah perbandingan indeks bias antara dua
medium, maka indeks bias relatif ini bisa bernilai lebih besar atau lebih dari
satu.
Gambar 1.9 Hukum pembiasan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan oleh
Willebrord Snellius (1591 – 1626), seperti pada gambar 2. Diproleh hukum
pembiasan atau hukum Snellius sebagai berikut:
1) Sinar datang, sinar bias, dan
garis normal berpotongan pada suatu titik
dan terletak pada satu bidang datar.
2) Sinar datang dari
medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat dibiaskan mendekati garis
normal.
3) Sinar datang dari
medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat dibiaskan menjauhi garis
normal.
4) Sinar datang secara
tegak lurus terhadap bidang batas dua medium tidak dibiaskan, melainkan
diteruskan.
Hukum pembias tersebut dapat dinyatakan secara matematis sebagai
berikut.
n1 sin i = n2 sin r
Keterangan:
n1 =
indeks bias mutlak medium 1
n2 =
indeks bias mutlak medium 2
i = sudut datang
r = sudut bias
b.
Pembiasan
pada Kaca Plan-paralel
Gambar 1.10 Pembiasan pada kaca plan-paralel
Untuk kaca plan-paralel
dengan ketebalan d maka sinar akan mengalami pergeseran sebesar t
yang dapat diturunkan sebagai berikut:
Perhatikan
segitiga OBC:
sin
sudut COB =
t = OB sin sudut COB
t = OB sin (i – r)
Perhatikan
segitiga OAB:
cos r = OA/OB = d/OB
dengan
menggabungkan kedua persamaan di atas, diperoleh
dimana
r dapat dihitung dari hukum Snellius (n1 sin i =n2
sin r).
c.
Pembiasan Cahaya pada Bidang Lengkung
Hukum pembiasan Snellius dapat
juga diterapkan pada bidang lengkung terutama untuk sinar-sinar paraksial.
Gambar 2.9 memperlihatkan suatu batas permukaan lengkungan yangg mempunyai
jari-jari kelengkungan R dan pusatnya adalah titik C. Cahaya
datang dari benda di titik O, mengenai bidang batas dengan sudut datang i
dan dibiaskan dengan sudut bias r ke titik I memenuhi hukum
Snellius.
n1 sin i = n2
sin r
Gambar 1.11 Pembiasan cahaya pada
bidang lengkung
Untuk sinar-sinar paraksial
kita dapat menggunakan pendekatan sin θ = θ sehingga diperoleh
n1i = n2r
Bedasarkan sifat geometri dapat ditunjukkan bahwa
i = α + β dan β = γ + r
Apabila ketiga persamaan terakhir kita gabungkan dengan mengeliminasi i
dan r akan diperoleh
n1α + n2γ = (n2
– n1)β
Jika so adalah jarak benda O ke titik verteks V dan
s1 adalah jarak bayangan I ke titik verteks V,
maka kita dapat menghitung besar sudut α, β dan γ dalam satuan radial sebagai
panjang busur AV dibagi jari-jari yang terkait
α =AV/so ,
β =AV/R ,
γ =AV/si
Dengan memasukkan sudut α, β dan γ ke dalam persamaan terakhir dengan
menghilangkan panjang busur AV akan diperoleh:
Perhatikan aturan penggunaan persamaan di atas
R bertanda +
jika permukaan cembung
R bertanda -
jika permukaan cekung
so bertanda +
jika benda nyata (di depan permukaan lengkung)
si bertanda +
jika bayangan nyata (di belakang permukaan lengkung)
si bertanda -
jika bayangan maya (di depan permukaan lengkung)
d.
Pembiasan cahaya pada prisma kaca
Prisma juga merupakan benda bening yang terbuat dari kaca, kegunaannyaantara lain untuk mengarahkan berkas sinar,
mengubah dan membalik letak bayanganserta menguraikan cahaya putih
menjadi warna spektrum (warna pelangi).Cahaya dari udara memasuki salah satu
bidang pembias prisma akan dibiaskan dan padasaat meninggalkan bidang pembias
lainnya ke udara juga dibiaskan.
C.
Latihan soal
Pilihlah
salah satu jawaban yang paling tepat di bawah ini:
1.Cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang mempunyai
sifat- sifat…..
1)
Merupakan gelombang medan listrik
dan medan magnetic
2)
Merupakan gelombang longitudinal
3)
Dapat dipolarisasikan
4)
Rambatannya memerlukan zat antara
Pernyataan yang benar adalah….
a.
1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 2 dan 4
d. 2 dan 3
e. 1 dan 4
2.
Seberkas sinar mengenai system optic
yang terdiri atas dua cermin datar yang saling tegak lurus. Setelah berkas
sinar mengalami pemantulan dua kali maka arah berkas sinar ……
a. Menuju sinar datang
b. Memotong sinar datang
c. Tegak lurus sinar datang
d. Sejajar dan berlawanan dengan arah sinar datang
e. Sejajar dan searah dengan sinar dating
3. suatu benda di letakan pada jarak 4 cm
DAFTAR
PUSTAKA
Beuchc
Frederick J, dan Eugene Heeht. 2006. Fisika Universitas Edisi kesepuluh.
Jakarta: Erlangga.
Daryanto. 2003. FisikaTeknik. Jakarta: Bina adiaksara.
Gianncoli Douglas C. 2001. Fisika Edisi kelima jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Sears dan
Zemansky. 2001. FISIKA UNIVERSITAS Edisi ke sepuluh jilid 2. Jakarta: Erlangga.

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar